Saya Memeluknya, Tapi Ia Tak Lagi Hangat
Ini adalah kematian pertama yang membuat saya benar benar sadar bahwa seluruh dunia saya bisa hancur berkeping-keping. Sebab, makhluk yang telah mencintai saya bahkan sebelum saya lahir ke dunia ada di dalam sana. Malam itu saya menunggu, berharap keajaiban datang. Berkali-kali saya bertanya, sudah berapa jam jantung itu berhenti berdetak. Saya terus berharap ia akan bangun kembali, seperti orang-orang yang hanya mengalami mati suri. Saya tidak sanggup memandikan jenazahnya. Melepaskannya dari dunia ini terasa begitu sesak. Tangan dan jiwa ini seolah ingin menahannya saat orang-orang mulai mengangkatnya. Dalam hati saya terus berkata, “Tunggu sebentar… barangkali mama saya akan bangun kembali.” Berkali-kali kain kafan itu dibuka, dan setiap kali itu pula saya berharap jantungnya kembali berdetak. Namun kenyataannya tidak. Sampai saya merasakan dinginnya tubuhnya, merasakan badannya yang mulai kaku, hingga detik di mana i...